Sifat Kasih Sayang dan Cara Menumbuhkannya

12 Mei

Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dua sifat Allah Ta’ala, dan juga merupakan nama dari nama-namanya yang mulia, yang diambil dari kata rahmat dengan bentuk mubalaghah. Ar-Rahman lebih kuat maknanya dari Ar-Rahim, karena Ar- Rahman bermakna memiliki kasih sayang yang meliputi semua makhluk di dunia, dan bagi mukminin di akhirat. Sedangkan Ar-Rahim bermakna memiliki kasih sayang bagi mukminin pada Hari Kiamat. Ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Karena rahmatnya yang tak terhitunglah kita dapat melakukan hal yang sesuai dengan yang kita inginkan. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman dalam surat Fathir : 2 yang artinya : “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.” (Fathir : 2) Baca lebih lanjut

Akhlaqul Karimah

4 Jan

WA INNAKA LA ‘ALAA KHULUQIN ‘ADZIIM – Dan sesungguhnya engkau Muhammad niscaya memiliki akhlaq yang agung.” Demikian firman Allah SWT didalam Al-Quran Surat Al-Qolam (58:4).

Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad adalah manusia yang jujur dan tidak memiliki cela, sehingga dijuluki al-Amin atau orang yang dapat dipercaya.

Demikian dihormatinya Muhammad, sehingga 5 tahun sebelum kenabian ketika terjadi banjir besar di Makkah dan batu Hajar Aswad hanyut dan diperbaiki, para tetua 4 suku di Makkah bertengkar tentang siapa yang berhak untuk mengembalikan batu hitam dari sorga itu ke tempatnya. Karena deadlock – buntu, maka para sesepuh itu akhirnya sepakat menyerahkan pengembalian batu itu ke Muhammad Al-Amin. Padahal ketika itu Muhammad baru berumur 35 tahun.

Sekiranya orang biasa diserahi kehormatan demikian, barangkali dengan rasa pongah dan membusungkan dada dikembalikannya batu itu sendirian. Tetapi tidak demikian dengan Muhammad. Dilepasnya sorbannya, dibentangkannya, diletakkannya Hajar Aswad itu diatas sorbannya, lalu dipersilahkannya para boss suku-suku itu menggotongnya rame-rame ke tempat asalnya di sudut Kabah, sampai akhirnya Muhammad meletakkannya di tempatnya. Demikianlah contoh betapa mulianya akhlaq Muhammad di mata masyarakat, padahal saat itu beliau belum diangkat menjadi Nabi.

Pasca Kenabian.

Alangkah mulianya ahlak Rosulullah dapat dilihat dari hadits tentang sohabat Anas yang selama menjadi khodam – pelayan Rosululloh tidak pernah sekalipun ditegur Nabi dengan ucapan ‘uffin’ – “Ah!”.
Ketika Anas berbuat sesuatu yang Nabi sebetulnya tidak menghendakinya, tidak pernah sekalipun Nabi menegor “lima shona’tahu?” – mengapa engkau mengerjakan itu? Ketika Anas tidak berbuat sesuatu padahal Nabi sebetulnya menghendakinya, tidak pernah sekalipun Nabi mengatakan “lima taroktahu?” – mengapa engkau tidak mengerjakan itu?

Boleh jadi ada orang berargumen, ah, itu kan karena Anas memang sohabat yang perfeksionis, orang yang serba sempurna, sehingga selama menjadi khodam tidak pernah berbuat kesalahan.

Sohabat Anas adalah manusia biasa. Siapakah manusia biasa yang bisa melayani tanpa salah, atau bisa dengan tepat menebak keinginan yang dilayaninya selama 10 tahun? Ya, menurut hadits itu, Anas menjadi khodam Nabi selama 10 tahun. Bagaimana sesama anak Adam memperlakukan sesamanya, Nabi berwasiat kepada para khalifah supaya yu’addzim abiiirohum– memuliakan orang tua, wa yarhama shoghiirohum dan menyayangi anak kecil. Nah, kalau kepada yang tua dan yang muda saja harus demikian, bagaimana kepada para peers alias yang sebaya?

Al ‘Ulya – As Sufla

Hubungan sesama manusia tidak mungkin terlepas dari al-‘ulya alias ‘yang di atas’ dan as-sufla alias ‘yang di bawah’. Contohnya pemimpin-bawahan, suami-isteri, ortu-anak, kakak-adik, dst. Bagaimana Islam mengajarkan al-‘ulya harus bersikap kepada as-sufla?

Wahfidz janaahaka limanittaba’aka minal muminiina – Rendahkan sayapmu kepada orang iman yang mengikutimu. Fabimaa rohmatin minalloohi linta lahum – maka dengan rahmat dari Allah lemah lembut engkau Muhammad kepada mereka. Walau kunta faddhon gholiidhol qolbi lanfaddhuu min haulika – jika engkau keras dan kasar hati niscaya bubar mereka darimu Muhammad. Demikianlah beberapa dari perintah Allah yang ada didalam Al-Quran. Hadits dari Anas diatas sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bagaimana luhurnya ahlak Muhammad sebagai al ‘ulya kepada seorang Anas sebagai as-sufla.

Umar bin Khottob terkenal galak diluar rumah, tetapi lemah lembut kepada isterinya. Ketika ditanya mengapa demikian, dijawabnya karena isterinya itulah yang melahirkan dan membersarkan anak-anaknya.

Ada lelaki sekarang yang nampak gentleman di luar, tetapi justru galak didalam rumah. Keras kepada isterinya, dan streng kepada anak-anaknya. Mereka stress manakala berjumpa dengan bapak biologisnya sendiri. Ini bukan rekaan. Buktinya ada UU KDRT – Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tempelengan, bahkan lebih dari itu di kalangan keluarga, masih terjadi. Na’uudzu billaahi min dzaalika. Sabda Nabi di sebuah hadits: “Alangkah hinanya seorang laki-laki yang berbuat kasar kepada isterinya, siang dipukuli, malam dikumpuli”. Kalau dalam istilah Kang Kabayan: ’beurang digebugan, peuting ditumpakan’.
Waspada Mulut

Nabi ditanya ‘an aktsari maa yudkhilun naasal jannata – tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk sorga. Apakah karena jagoan yang siap maju ke medan perang? Apakah karena banyak ilmu yang siap untuk diajarkan? Karena banyaknya harta yang siap untuk disedekahkan? Ternyata ja

wab Nabi adalah: ’taqwalloohi wa husnul khuluqi’ – taqwa kepada Allah dan ahlak yang baik. Lalu Nabi ditanya ‘an aktsari maa yudkhilun naasan naaro – tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka? Ternyata jawab Nabi mengejutkan: ’al famu wal farju’ – mulut dan farji.

Shodaqo Rosululloh, sungguh benar Nabi. Dengan mulut bisa bertengkar, berdebat, berbohong, naminah (adu-domba), ghibah (ngerasani, ngupat, menjelek-jelekkan) dan fitnah, serta memuji orang. Didalam Islam, memuji orang didepannya adalah larangan, karena bisa membunuh niat Karena Allah orang yang dipuji. Menimbulkan rasa riya. Qod qoto’ta ‘unuqo shoohibika – sungguh engkau telah memenggal leher saudaramu, demikian sabda Nabi kepada orang yang memuji orang lain didepannya.

Melaksanakan akhlaqul karimah itu ibarat meniti tangga. Yang menjunjung tinggi akhlaqul karimah ibaratnya menaiki tangga, semakin lama semakin tinggi, sampai ke summit atau puncak pencakar langit. Sebaliknya mereka yang mengabaikan akhlaqul karimah, ibaratnya menuruni tangga, semakin lama semakin rendah. Sampai ke basement.

Sangat banyak aspek tentang akhlaqul karimah. Oleh karena itu mengkhatamkan hadits Kitabul Adab atau ‘Buku tentang Tingkah-Laku’ baik di himpunan maupun di kitab hadits besar, seharusnya menjadi prioritas utama. Alhamdulillah, ternyata ucapan dan tingkah-laku dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, ada adabnya. Maka alangkah meruginya setelah jungkir balik siang-malam fastabiqul khoirot amal solih di segala bidang kegiatan agama termasuk organisasi, semua menjadi kontra-produktif  mubadzir gara-gara mengabaikan akhlaqul karimah. Bil khusus sesuai hadits diatas gara-gara mengabaikan untuk menjaga bagian yang paling banyak membawa manusia ke neraka: mulut.

Semua sudah pada tahu dalil fal yaqul khoiron au liyasmuth – lebih baik diam daripada mengumbar bicara. Jadi daripada tidak tahan untuk tidak berbicara tidak baik, atau tidak mampu “nasehat pait-madu”, demi mewujudkan akhlaqul karimah, mengapa tidak mencontoh sikap Nabi kepada Anas? Fa aina tadzhabuun?

sumberhttp://nuansaonline.net

Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS)

21 Des

Peserta LDKS sedang mengikuti Upacara

1.        Latar Belakang

    Dalam rangka peningkatan dan penanaman kedisiplinan dalam berorganisasi di lingkungan sekolah maka perlu diadakan suatu jenis kegiatan yang sifatnya untuk memberikan pelajaran cara berorganisasi di lingkungan sekolah, adapun bentuk kegiatannya yaitu Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS).
    LDKS ini bermaksud memberikan suatu cara atau tehnik dalam kepemimpinan siswa sehingga pengurus OSIS dan Pengurus Kelas mampu memimpin organisasi dan kelasnya sehingga program-program kerja dapat dilaksanakan.

2.      D a s a r

    • Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional;
    • Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen;
    • Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan;
    • Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 125/N/2002, tentang Kalender Pendidikan dan Jumlah Jam Belajar di sekolah;
    • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006, tentang Pembinaan Prestasi Peserta Didik yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa;
    • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008, tentang Pembinaan Kesiswaan;
    • Program Kerja Sekolah Tahun Pelajaran 2011/2012;
    • Program Kerja OSIS Tahun Pelajaran 2011/2012.

3.      U m u m

3.1.      Umum

    Memberikan pelatihan dasar kepemimpinan siswa agar lebih bertanggung jawab, disiplin dan berdedikasi yang tinggi terhadap tugasnya.

3.2.      Khusus

  • Mengetahui hak dan kewajiban dan mampu bertanggung jawab dalam kehidupan sekolah.
  • Untuk menanamkan pemahaman kehidupan sekolah dalam rangka pelaksanaan wawasan wiyata mandala, sehingga fungsi sekolah, guru, siswa dan lingkungan masyarakat dapat mendukung terwujudnya pendidikan secara konfrehensif menyeluruh.
  • Melatih dan mendidik siswa untuk dapat hidup lebih disiplin dan bertanggung jawab.
  • Memberikan pelatihan tehnik dan cara mengelola suatu organisasi sekolah.
  • Membantu siswa baru mengembangkan keterampilan untuk melakukan analisis pengalaman dalam membuat kesimpulan-kesimpulan.
  • Mengembangkan kreatifitas dan memberdayakan potensi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.

4.      Langkah-langkah Kegiatan

Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS)

    1. Mendata siswa
    2. Menentukan Pembimbing/Pemberi Materi
    3. Menentukan materi yang akan disampaikan
    4. Menentukan waktu pelaksanaan

5.      Sasaran

      Siswa kelas VII dan VIII serta perwakilan kelas di SMP Negeri 1 Pusakanagara Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan perincian sebagai berikut :

No.

Kelas

Jumlah

1

VII

24

2

VIII

24

3

OSIS

32

Jumlah

80

6.      Tempat dan Waktu Pelaksanaan

6.1. Tempat Pelaksanaan

    Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) Tahun Pelajaran 2011/2012 akan dilaksanakan di Kampus SMP Negeri 1 Pusakanagara, Jalan Raya Timur Pusakanagara No. 31 Kab. Subang.

6.2. Waktu Pelaksanaan

  • Hari                  : Sabtu dan Minggu
  • Tanggal            : 17 – 18 Desember 2011
  • Waktu              : pukul 13.00 s.d. selesai

7.         Sumber Dana

    Dalam kegiatan ini diperlukan sumber dana demi kelancaran pelaksanaannya. Adapun sumber dana diperoleh dengan perincian anggaran terlampir.

8.        Ruang Lingkup Kegiatan

  • Pembentukan Kelompok Kerja
  • Pengarahan Tehnik
  • Penyusunan Acara
  • Penentuan Lokasi Penyelenggaraan
  • Pelaksanaan Kegiatan Sesuai Rencana

9.      Alternatif Acara / Materi

  • Tipe-Tipe Kepemimpinan (Leadership)
  • Tehnik dan Cara Penyusunan Program Kerja
  • Pembukuan Sederhana
  • Tehnik Penyusunan Proposal
  • Etika/Moral Kepemimpinan
  • Pemecahan Masalah
  • Tata Cara Upacara

10.  Prinsip Penyelenggaraan LDKS

  • Penyelenggaraan dilaksanakan dalam lingkup SMP Negeri 1 Pusakanagara
  • Materi yang dilaksanakan disesuaikan dengan kegiatan LDKS dalam pelaksanaannya melibatkan dewan guru dan pengurus OSIS
  • Pelaksanaan diawali dengan upacara pembukaan

11.  Sistematika Penyusunan

11.1.       BAB I           PENDAHULUAN

11.2.       BAB II          ORGANISASI

11.3.       BAB III         PELAKSANAAN KEGIATAN

11.4.       BAB IV         ANGGARAN

11.5.       BAB V          PENUTUP

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Ujian Akhir Semester Ganjil di Tingkat SMP

20 Des

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

1.        Latar Belakang

Kegiatan Ulangan Akhir Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2011/2012 merupakan suatu alat Evaluasi sebagai tolok ukur keberhasilan dari proses belajar mengajar yang akan digunakan untuk meningkatkan proses pembelajaran dimasa yang akan datang.

Mengingat pentingnya arti dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini serta beratnya tanggung jawab yang harus diemban, maka kami memandang perlu untuk menyusun buku Program Kerja Ulangan Akhir Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2011/2012 sebagai pedoman dan dasar pijakan serta petunjuk bagi semua pihak yang terkait, agar penyelenggaraan kegiatan tersebut mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan.

2.        D a s a r

2.1.    Kalender Pendidikan dari Dinas Pendidikan.

2.2.    Program Kerja Sekolah Tahun Pelajaran 2011/2012.

2.3.    Surat Edaran dari Dinas Pendidikan tentang Petunjuk Pelaksanaan Ulangan Akhir

Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2011/2012.

2.4.    Rapat Kepala Sekolah.

3.        T u j u a n

3.1.    Tujuan Umum

Sebagai bahan acuan bagi penyelenggaraan kegiatan Ulangan Akhir Semester Ganjil

Tahun Pelajaran 2011/2012.

3.2.    Tujuan Penyusunan Program Kerja Ulangan Akhir Semester Ganjil.

3.2.1.  Meningkatkan efektifitas penilaian hasil belajar siswa sesuai dengan target

kurikulum yang harus dicapai.

3.2.2.  Menjaring nilai sebagai bahan laporan kemajuan belajar siswa selama 1 semester.

3.2.3.  Sebagai umpan balik bagi guru dan sekolah untuk meningkatkan, memperbaiki

dan mengembangkan proses pembelajaran pada waktu dan jenjang berikutnya.

3.2.4.  Untuk mengukur KKM dan Standar Kompetensi yang sudah ditentukan.

3.2.5.  Untuk memperoleh butir-butir tes yang memenuhi syarat dalam rangka

pengembangan bank soal.

4.        S a s a r a n

Siswa kelas VII, VIII dan IX SMP Negeri 1 Pusakanagara Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan perincian sebagai berikut :

No.

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

2

3

VII

VIII

IX

165

159

132

206

179

195

371

338

327

Siswa kelas VII, VIII dan IX SMP Terbuka 1 Pusakanagara Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan perincian sebagai berikut :

No.

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

2

3

VII

VIII

IX

11

18

10

13

8

5

24

26

16

5.        Ruang Lingkup Kegiatan

5.1.    Kegiatan Persiapan

5.1.1.  Pembentukan Kelompok Kerja Ulangan Akhir Semester Ganjil  Tahun Pelajaran 2011/2012 serta Program Kerjanya.

5.1.2.  Penetapan calon peserta, pengawas, pemeriksa serta jumlah ruangan.

5.1.3.  Penyusunan kisi-kisi, naskah soal, naskah praktek dan perangkat administrasi lainnya.

5.1.4.  Penggandaan dan pengepakan naskah soal dan lembar jawaban.

5.1.5.  Pembuatan dan pembagian kartu peserta.

5.1.6.  Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Ulangan Akhir Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2011/2012.

5.2.    Materi Tes

5.2.1.  Materi soal tes diambil dari Kurikulum 2004 dan KTSP dengan ketentuan sesuai hasil rapat Kepala Sekolah di Komisariat Pamanukan.

5.2.2.  Bentuk soal yaitu dan aspek yang diukur :

– Tes Praktek Kemampuan Peserta;

– Bentuk soal pilihan ganda dengan 4 option meliputi gambar, grafik,  diagram dan peta;

– Aspek yang diukur adalah kognitif dan psikomotor.

6.        Sistematika Penyusunan

6.1.    BAB   I     PENDAHULUAN

6.2.    BAB   II    ORGANISASI

6.3.    BAB   III   PELAKSANAAN KEGIATAN

6.4.    BAB   IV  ANGGARAN

6.5.    BAB   V   PENUTUP

DAFTAR LAMPIRAN-LAMPIRAN

PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN

7 Des

Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya denga nbaik jika memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksud pendidikan. Jawaban yang benar tentang pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsurnya, konsepdasar yang melandasinya, dan wujud pendidikan sebagi sistem. Bab II ini akan mengkaji pengertian pendidikan,unsur-unsur pendidikan, dan sistem pendidikan.

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN

1. Batasan tentang Pendidikan

Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.

a. Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya

Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.

b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi

Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.

c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara

Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.

d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja

Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.

e. Definisi Pendidikan Menurut GBHN

GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

2. Tujuan dan proses Pendidikan

a. Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

b. Proses pendidikan

Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.

3. Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)

PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad 16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda sampai paling tua.(Cropley:67)

Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan:
a. Rasional
b. Alasan keadilan
c. Alasan ekonomi
d. Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek
e. Alasan perkembangan iptek
f. Alasan sifat pekerjaan

4. Kemandirian dalam belajar

a. Arti dan perinsip yang melandasi 

Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kamauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran. Konsep kemandirian dalam belajar bertumpu pada perinsip bahwa individu yang belajar akan sampai kepada perolehan hasil belajar.

b. Alasan yang menopang

Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S. 1988; 14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut:

a. Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para pendidik(khususnya guru) mengajarkan semua konsep dan fakta kepada peserta didik.

b. Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif.

c. Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret dan wajar sesuai dengan situasi dan kondidi yang dihadapi dengan mengalami atau mempraktekannya sendiri.

d. Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seyogyanya tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.

B. UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN

Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
1. Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2. Orang yang membimbing (pendidik)
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
7. Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)

Penjelasan:

1. Peserta Didik

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya.

Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:

a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.

b. Individu yang sedang berkembang.

c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.

d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

2. Orang yang membimbing (pendidik)

Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.

3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)

Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.

4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)

a. Alat dan Metode

Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat pendidikan dibedakan atas alat yang preventif dan yang kuratif.

b. Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)

Lingkungan pendidikan biasanya disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

C. PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

1. Pengertian Sistem

Beberapa definisi sitem menurut para ahli:

a. Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. (Tatang M. Amirin, 1992:10)

b. Sistem meruapakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. (Tatang Amirin, 1992:10)

c. Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Tatang Amirin, 1992:11)

2. Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan.

Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Komponen tersebut antara lain: raw input (sistem baru), output(tamatan), instrumentalinput(guru, kurikulum), environmental input(budaya, kependudukan, politik dan keamanan).

3. Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sitem Lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem

Sistem pendidikan dapat dilihat dalam ruang lingkup makro. Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan,dan politik masing-masing-masing sebagai sistem. Pendidikan formal, nonformal, dan informal merupakan subsistem dari bidang pendidikan sebagai sistem dan seterusnya.

4. Pemecahan masalah pendidikan secara sistematik.

a. Cara memandang sistem

Perubahan cara memandang suatu status dari komponen menjadi sitem ataupunsebaliknya suatu sitem menjadi komponen dari sitem yang lebih besar, tidak lain daripada perubahan cara memandang ruang lingkup suatu sitem atau dengan kata lain ruang lingkup suatu permasalahan.

b. Masalah berjenjang

Semua masalah tersebut satu sama lain saling berkaitan dalam hubungan sebab akibat, alternatif maslah, dan latar belakang masalah.

d. Analisis sitem pendidikan

Penggunaan analisis sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efesien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secra sistmatik, artinya harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam maslah pendidikan yang akan dipecahkan.

e. Saling hubungan antarkomponen

Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu sistem yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan sistem secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhibungan secra fungsional dengan komponen lain.

f. Hubungan sitem dengan suprasistem

Dalam ruang lingkup besar terlihat pula sistem yang satu saling berhubungan dengan sistem yang lain. Hal ini wajar, oleh karena pada dasarnya setiap sistem itu hanya merupakan satu aspek dari kehidupan. Sdangkan segenap segi kehidupan itu kita butuhkan, sehingga semuanya memerlukan pembinaandan pengembangan.

5. Keterkaitan antara pengajaran dan pendidikan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari persoalan pengajaran dan pendidikan adalah:

a. pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masing-masing saling mengisis.

b. Pembedaan dilakukan hanya untuk kepentingan analisis agar masing-masing dapat dipahami lebih baik.

c. Pendidikan modern lebih cenderung mengutamakan pendidikan, sebab pendidikan membentuk wadah, sedangkan pengajaran mengusahakan isinya. Wadah harus menetap meskipun isi bervariasi dan berubah.

6. Pendidikan prajabatan (preservice education) dan pendidikan dalam jabatan (inservice education) sebagai sebuah sistem.

Pendidikan prajabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu. Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada oramg-orang yang telah bekerja berupa penataran, kursus-kursus, dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan prajabatan hanya memberikan bekal dasar, sedangkan bekal praktis yang siap pakai diberikan oleh pendidikan dalam jabatan.

7. Pendidikan formal, non-formal, dan informal sebagai sebuah sistem.

Pendidikan formal yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pedidikan yang telah baku, misalnya SD,SMP,SMA, dan PT. Pendidikan nonformal lebih difokuskan pada pemberian keahlian atau skill guna terjun ke masyarakat. Pendidikan informal adalah suatu fase pendidikan yang berada di samping pendidikan formal dan nonformal.

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, nonformal, dan informal ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumberdaya manusia sangat bergantung kepada sejauh mana ketiga sub-sistem tersebut berperanan.

  • Sumber Bacaan: Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta